hatiku kini membuncah deras membongkar semua tembok pelapis dalam lara.
mulut membisu tapi semua asaku bergemuruh ricuh.
tentang sebuah kisah masa indah yang tak lepas dari keakuanku yang ini
siapa yang kira sang pendiam ini ternyata adalah lelaki dengan sejuta obsesi
bukan tentang obsesi yang tinggi nan gila pamor. tidak.
namun tentang obsesi yang luhur nan suci.
tentang derajat kesetaraan kaum marginal.
tentang hak para batin kaum buruh. tentang kesucian agama yang treusik.
tentang semuanya itu.
aku selalu bergetar melihatnya.
28 agustus 2004. bukan tanggal yang kau buang menjadi sampah.
bukan pula sampah yang kau bakar menjadi asap.
bukan.
tapi tanggal itu menjadikanku lelaki sejuta obsesi.
siapa aku?
kau tak perlu tanya. aku tetaplah lelaki sejuta obsesi.
dan tentang tanggal itu bukanlah tanggal biasa karena tgl itu menjadikanku lelaki berapi biru.
membakar semua lemahku yang biasa.
28 agustus 2004.
mengisahkan tokoh dibalik layar sang lelaki sejuta obsesi.
tokoh itu bukan soekarno, yang kukagumi
bukan pula napoleon atau natsier
atau bukan jenghis khan dan lincoln.
tokoh itu ibu.
ya ibuku.
ibuku
siapa dia?
kau harus selalu tanyakan.
dan aku akan selalu jawab.
pra 28 agustus 2004
sebelum tanggal itu hadir dalam sejarah hidupku, semua adalah kebersamaan. tk ada yang diluput oleh kesunyian dalam diri sendiri. aku dan ibu adalah satu dan takan pernah berpisah. begitupula aku dan keluargaku, ayahku dan keempat saudaraku adalah satu, kita adalah kita tak pernah menjadi aku atau kamu. kebersamaan itu disusun dirumah yang sederhana, tk seperti rumah para kaisar jepang atau para konglomerat rja di arab, atau bahkan para artis holywood di amerika. rumah kami sderhana namun hangat dan nyaman, rasanya tak mungkin bagiku meninggalkan satu hari saja dari rumah sederhana itu. malam adalah kebersamaan yang terbina karena kami sengaja menyerahkan diri pada pangkuan Tuhan di sepermpat malamnya. ayah menjadi komandan dan kami menjadi prajurit. terkadang disaat khusyu bersujud, aku adalah yang paling lama. bukan karena aku terlalu khusyu dan menghayati tapi karena aku teramat ngantuk dan ketiduran. wajarlah karena aku dulu adalah anak yang belum remaja sekalipun. sore adalah kebersamaan karena diwaktu itu aku kami membuat lingkaran untuk bercengkrama dan menyatukan hati sambil menyantap makanan yang sewajarnya, tak terlalu istimewa dan tak terlalu sederhana. Ibu menjadi komando saat itu dan kami menjadi prajurit. maghrib adalah kebersaman krena kami membumbuinya dengan lantunan-lantunan suci yang disatukan. hingga di satu titik ditempat kami selalu melantunkan ayat suci terdapat gema yang tak biasa, ayah bilang “itu mungkin cahaya langit bagi keluarga kita”.
diantara semua diantara kami ibulah irang yang paling sabar dan lembut, dia jarang mengeluarkan nada-nada berintonasi tinggi atau membentak dengan bahasa kasar. pernah ku sekali memukul tikus bsar dengan batu bata merah karena tikus itu tiba-tiba datang kehadapanku, seketika ibu melarangku dan memarahiku. ibu bilang “kalau tikus adalah makhluk juga, dia punya hak untuk hidup, kita sebagai manusia harus memahami jalan hidup nya”. bapak adalah orang yang perasa namun terkadang disat marah dia bak rahwana yang akan menghancurkan negeri alengka, tak ada yang bisa menahan emosi baoakku disat marah terkecuali ibu. aku dan bapak begitupula saudaraku sangat menyayangi ibu. dari dulu, hingga kini dan sampai kapanpun.
Ibu: guru paling terhebat
aku tak tahu bagaimana Ayub bisa disebut sebagai orabg paling sabr jikalau aku tak membaca sejarah peradaban islam, ya itu sejarah dan aku mempercyainya. tapi aku ingin katakan pada semua yang ada didunia bahwa mahkluk paling sabar adalah ibuku.
bersambung
#repost dari tulisan adikku..^^